Ketua Mahkamah Pelayaran Turut Meriahkan Day of the Seafarer 2025 Lewat Kompetisi Badminton – Kemenhub:

“Saat Perayaan, Sportivitas, dan Dukungan pada Pelaut Menyatu”


Jakarta, 26 Juni 2025 — Suasana di lapangan badminton Mall Artha Gading, Jakarta Utara, pagi itu penuh semangat dan tawa. Dalam rangka memperingati Day of the Seafarer 2025, Kementerian Perhubungan menggelar kompetisi badminton antar pegawai lintas lembaga. Yang cukup mengejutkan sekaligus menyenangkan, Ketua Mahkamah Pelayaran, Capt. Sahattua P. Simatupang, M.M., M.H., CGCAE., turut turun ke lapangan sebagai peserta.

Dengan raket di tangan dan senyum semangat, Capt. Sahattua menyapa para pemain dan pendukung yang hadir. Baginya, kegiatan ini bukan sekadar olahraga, tapi bentuk apresiasi kepada para pelaut profesi yang mungkin tak selalu terlihat, tapi menjadi tulang punggung kehidupan kita sehari-hari.

“Ajang ini bukan soal siapa yang paling jago badminton, tapi tentang menghargai peran besar para pelaut kita. Mereka yang membawa logistik, bahan pangan, energi, dan kebutuhan penting lainnya dari satu negara ke negara lain. Jadi, menang atau kalah di sini bukan hal utama—yang penting, kita menang di hati para supporter,” ujarnya sambil tertawa, disambut tepuk tangan hangat dari para hadirin.

 

Di Balik Laga, Ada Pesan Serius

Momen peringatan Day of the Seafarer bukan hanya soal perayaan. Bagi Capt. Sahattua, ini juga saat yang tepat untuk mengingat kembali berbagai tantangan yang masih dihadapi para pelaut—terutama soal perlindungan hukum dan kesejahteraan mereka.

Indonesia sebagai negara maritim punya peran besar di kancah pelayaran internasional. Tapi tantangannya juga tidak kecil: masih ada kasus pelaut yang bekerja tanpa kontrak yang layak, kapal yang berlayar tanpa standar keselamatan memadai, dan proses hukum yang panjang saat terjadi kecelakaan laut.

“Sebagai Ketua Mahkamah Pelayaran, saya tahu betul bagaimana rumitnya penanganan kasus-kasus maritim di lapangan. Kita perlu regulasi yang lebih responsif, perlindungan hukum yang lebih manusiawi, dan lembaga yang bisa berpihak kepada pelaut ketika mereka menghadapi persoalan di laut,” ujarnya serius.

Mahkamah Pelayaran sendiri adalah lembaga yang menangani perkara kecelakaan kapal—salah satu dari sedikit institusi di Indonesia yang fokus pada dunia maritim dari sisi hukum. Di tengah kompleksitas industri pelayaran global, lembaga ini menjadi garda penting dalam memastikan akuntabilitas dan keadilan di laut.

 

Pelaut: Profesi yang Perlu Lebih Dihargai

Perayaan Day of the Seafarer, yang dicanangkan oleh International Maritime Organization (IMO), menjadi momen reflektif setiap tahunnya. Tahun ini, tema yang diusung adalah “Empowering Seafarers – Navigating the Future”, menyoroti pentingnya meningkatkan keterampilan dan daya saing pelaut di era digitalisasi maritim.

Dalam konteks itu, Capt. Sahattua menilai bahwa apresiasi seperti ini penting, tapi tak boleh berhenti hanya pada simbolik.

“Kita ingin pelaut Indonesia tak cuma tangguh di laut, tapi juga dihargai secara adil. Mereka bekerja dalam kondisi yang tak mudah, jauh dari keluarga, menghadapi risiko cuaca ekstrem, dan seringkali masih menghadapi ketidakpastian hukum. Sudah waktunya kita ubah itu,” katanya.

 

Ketika Olahraga Menyatukan Kita

Acara badminton ini diikuti oleh perwakilan dari berbagai unit kerja di bawah Kementerian Perhubungan, termasuk para pelaut senior dan mahasiswa dari sekolah pelayaran. Di luar lapangan, para peserta saling berbagi cerita, tawa, dan tentu saja semangat kebersamaan.

Mahkamah Pelayaran merasa bangga bisa menjadi bagian dari perayaan ini. Dalam keringat dan tawa yang tercipta dari pertandingan, ada harapan besar: agar pelaut Indonesia makin dihargai, dilindungi, dan terus menjadi bagian penting dari konektivitas dunia.

 

“Selamat Hari Pelaut Sedunia, Terima kasih atas jasa dan pengorbananmu, wahai penjaga Samudra”.

 

Red.Admin_Mahpel 26/06/2025